| Setelah gantung jas sebagai pengacara, pelan-pelan Tissa membangun semua mimpinya. Ada jeda lumayan panjang sampai Tissa dan Irfan memperkenalkan Pipiltin Cocoa ke masyarakat. Tak pernah ada di bayangan kalau dia akan mendistribusikan ribuan cokelat bar hasil produksi pabrik sendiri ke berbagai swalayan. Apalagi sekarang, kepakan sayap Pipiltin Cocoa sudah melebar sampai ke Jepang. Tissa, mengatakan, sempat bikin perencanaan bisnis sederhana agar dia tahu harus bagaimana kalau ternyata Pipiltin Cocoa tidak berjalan semestinya. Di saat yang bersamaan pula, Tissa mulai belajar dengan komunitas-komunitas dari belahan bumi yang lain agar tahu cara mengolah cokelat supaya digemari banyak orang. "Banyaklah ilmu how to handle chocolate yang saya dapat. Dari mesin apa yang diperlukan, processing seperti apa, benar-benar trail and error saya lakukan," kata dia. Perempuan berambut pendek ini tak mau setengah hati menghasilkan cokelat yang enak. Dia pun berpatokan pada toko cokelat langganan dia di Swis tersebut. "Kenapa kalau dia bisa bikin produk cokelat dari kita, kita sendiri malah enggak bisa? Jadi, saya cari cara agar bisa masuk ke pabrik mereka," kata Tissa. Tentu caranya bukan jadi penyeludup gelap atau melamar sebagai koki di sana. Supaya bisa melihat langsung proses pembuatan cokelat di toko langganan, Tissa sampai harus mengambil sertifikasi Master Chocolatier Sertification di Swis. Kebetulan pula toko tersebut punya workshop yang cukup konferehensip, yang bisa diikuti oleh siapa saja. Namun, peserta harus mendaftar terlebih dulu dan harus melalui proses wawancara. "Saya diwawancara guna mengetahui skil saya sudah sampai di mana dan sudah bisa ngapain saja. Untung saya sudah mengubah living room menjadi chocolate room, yang every weekend saya habiskan di sana. Bisa dibilang, jadi chocolate maker-lah," kata Tissa. Let's block ads! (Why?) via Berita Hari Ini, Kabar Harian Terbaru Terkini Indonesia - Liputan6.com https://ift.tt/2DdXi6O |
No comments:
Post a Comment