Pages

Sunday, September 16, 2018

Kalsum Harni, Kader JKN-KIS Nan Militan Asal Palembang

Kisah Kalsum Harni yang ditemui Dirut BPJS Kesehatan, Fachmi Idris, di kediamannya merupakan bukti kualitas kader JKN-KIS. Pagi-pagi sekali, sekitar pukul 06.00, Fachmi meluncur dari hotel tanpa sarapan dulu. Ia bertekad untuk bersilaturahim ke rumah Nenek Kalsum. Fachmi bahkan membawa bekal untuk sarapan bersama Kalsum dan keluarganya. Sesuai kebiasaan masyarakat Palembang, pagi itu sarapan mi celor. Ini sangat mirip dengan mi koclok dari Cirebon. Mi celor adalah mi yang diguyur kuah kental. Kuah itu campuran santan, tepung, dan kaldu ebi. Lalu diberi irisan telur rebus serta ditaburi irisan daun seledri, irisan daun bawang, dan irisan bawang goreng. Rasanya lezap, lezat mantap.

Di dinding ruang tamu yang sederhana, bertengger deretan piagam penghargaan dari BPJS Kesehatan. Kurang dari setahun menjadi kader JKN-KIS, Kalsum telah menggondol empat piagam penghargaan. Kalsum juga mengeluarkan jaket, tanda pengenal, dan topi kader JKN-KIS yang menjadi uniformnya saat terjun ke lapangan. Lalu ia mengenakan seragam tersebut untuk berfoto bersama dengan Dirut BPJS Kesehatan. Tentu suatu kebanggaan tersendiri bagi Kalsum karena pagi-pagi sekali sudah kedatangan tamu orang nomor satu di lembaga yang ikut ia besarkan tersebut.

Apa resep sukses nenek Kalsum? "Saya datang ke masyarakat bukan sebagai kader, tapi sebagai kawan," katanya. Padahal sebelumnya ia tidak kenal. Ia datang berkeliling dari rumah ke rumah. Memang ia sudah dibekali daftar nama dan alamat dari kantor BPJS Kesehatan. "Karena datang sebagai kawan maka ngobrolnya tidak lima menit. Bisa satu jam sendiri," ujar Kalsum bersemangat. Kalsum menjiwai profesi kader ini karena berangkat dari pengalaman dirinya sebelumnya. "Saya memiliki pengalaman tersendiri. Dulu saya mengurus ibu saya yang sakit di rumah sakit," katanya. Berbekal pahit-manis merawat ibunya yang sakit itu ia bertekad membantu orang lain. Ia mulai terjun di Posyandu, dan makin merasuk dengan aktif sebagai kader JKN-KIS.

Mendengar kisah itu, Fachmi menilai, "Ibu Kalsum bekerja dengan hati, sangat ikhlas menolong orang."

Saat berkeliling ke masyarakat ia sering menjumpai kisah-kisah yang membuatnya makin teguh menjadi kader. "Suatu saat saya menagih iuran ke peserta BPJS Kesehatan yang lama menunggak. Dijawab buat apa bayar, kan saya sehat. Begitu katanya. Eh tiga hari kemudian terkena serangan jantung. Akhirnya saya yang harus mengurusnya," katanya berkisah.

Selama ini ia mengaku tak mengalami hambatan dari sisi BPJS Kesehatan. Yang sering ia temui justru hambatan dari pihak rumah sakit atau puskesmas. "Seperti pasien yang ditolak rumah sakit. Atau pasien yang ditolak mendapat rujukan dari rumah sakit atau puskesmas. Padahal mereka peserta BPJS Kesehatan," katanya. Namun Kalsum menghadapi semua itu dengan sabar, telaten, dan tak kenal menyerah. Ia terus mengabdi menjadi kader untuk bisa menolong orang-orang. Keikhlasan nenek Kalsum merupakan anugerah tersendiri bagi negeri ini. Betapa indahnya jika negeri ini dipenuhi orang-orang seperti nenek Kalsum: gemar menolong sesama dengan penuh keikhlasan dan pengabdian. (*) 

Oleh: Nasihin Masha (Peserta JKN-JIS)

Let's block ads! (Why?)

via Berita Hari Ini, Kabar Harian Terbaru Terkini Indonesia - Liputan6.com https://ift.tt/2xrWTYi
RSS Feed

If New feed item from http://ftr.fivefilters.org/makefulltextfeed.php?url=https%3A%2F%2Fwww.liputan6.com%2Frss&max=3, then Send me an email


Unsubscribe from these notifications or sign in to manage your Email Applets.

IFTTT

No comments:

Post a Comment