Purwadi mengisahkan dirinya kehilangan sebagian kaki kanannya setelah mengalami kecelakaan motor saat masih duduk di kelas 3 Sekolah Teknik Menengah. Saat kakinya harus diamputasi, dia merasa frustrasi.
"Malu sudah pasti. Perubahan fisik mempengaruhi mental. Dan itu harus dikuatkan dulu. Namun saya merenung kalau seperti ini terus saya tidak pernah keluar dan bisa saja bunuh diri," katanya.
Nasib baik menghampiri Purwadi. Ditengah keterpurukannya menghadapi perubahan fisik, dia mendapat binaan dari Departemen Sosial yang memberinya banyak pelajaran tentang keterampilan.
"Dari sana, saya dapat banyak teman dan sharing. Teman-teman saya banyak yang suka olahraga, akhirnya saya terjun juga."
Dari pertemuan itu Departemen Sosial, Purwadi menyadari, para difabel tidak perlu minder dengan keadaan fisiknya. Purwadi berharap orang sepertinya tak perlu malu dengan perbedaan.
"Saran saya, terutama bagi orang tua yang mempunyai anak berkebutuhan khusus, saya harap mengizinkan anaknya untuk terjun ke dunia olahraga atau yang lain. Jangan pernah malu, harus berani dan semangat untuk mengubah nasib," ujarnya mengakhiri.
Saksikan video pilihan berikut ini:
No comments:
Post a Comment