Sugiyartanto mengatakan, salah satu terowongan yang saat ini tengah dibangun Kementerian PUPR adalah terowongan di Jalan Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu) sepanjang 472 meter dengan diameter 14 meter.
Pembangunan Terowongan Cisumdawu yang menembus bukit tersebut menggunakan teknologi metode New Austrian Tunneling Methods (NATM).
Selain metode NATM, terdapat juga metode Tunneling Boring Machine (TBM) yang juga digunakan dalam pembangunan MRT Jakarta. Sebanyak empat unit TBM digunakan dalam melakukan penggalian terowongan yang menghubungkan jalur MRT Lebak Bulus–Bundaran HI–Setiabudi.
Pembangunan terowongan juga akan diterapkan pada pada ruas tol Padang-Pekanbaru sebaanyak lima terowongan dengan total panjang 8,95 km yang menembus pegunungan Bukit Barisan. Selain di infrastruktur jalan, terowongan saat ini juga banyak digunakan dalam pembangunan bendungan.
Kepala Pusat Litbang Jalan dan Jembatan Deded P Sjamsudin dalam laporannya mengatakan, Puslitbang Jalan dan Jembatan juga telah bekerjasama dengan National Institute of Land and Infrastructure Management (NILIM) dan Public Works and Research Institute (PWRI) dari Jepang.
"Pengalaman Jepang dalam membangun terowongan dan kondisi topografi, densitas penduduk dan risiko gempa yang sama dengan Indonesia, dapat dijadikan rujukan dalam penyiapan kebijakan dan kebutuhan NSPK yang dibutuhkan," tutur dia.
Saksikan video pilihan di bawah ini:
No comments:
Post a Comment